Hukum & Kriminal / Selasa, 28 Juni 2011 11:06 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Arsyad Sanusi mengaku bertemu mantan calon legislatif dari Fraksi Partai Hanura Dewi Yasin Limpo. Bahkan, Arsyad mengaku sudah mengenal Dewi sejak masih kecil.
"Sebagai masyarakat ketimuran, famili, Dewi Yasin Limpo saya kenal sejak masih kecil. Dia di Hajibaum, saya di Cendrawasih, berdekatan. Saya bekas
Ketua Pengadilan Negeri Sungguminasa. Kakaknya sekarang yang gubernur ini dulunya sekretaris camat," kata Arsyad sebelum menghadiri rapat kerja Panitia Kerja Mafia Pemilu 2009 di gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (28/6).
Arsyad menjelaskan, pertemuan dengan Dewi adalah fakta, bukan fakta hukum. Keduanya harus dibedakan. Arysad menegaskan, ketika itu Dewi sama sekali tidak meminta penambahan suara atas sengketa hasil Pemilu 2009, antara Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di daerah pemilihan Sulsel I.
Menurut Arsyar, apa yang diceritakan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Djanedjri M Gaffar kepada DPR adalah bohong besar. "Itulah manipulasi fakta yang akan saya luruskan," tegasnya. Arsyad mengaku tidak tahu pembentukan tim investigasi MK. Arsyad tak pernah diperiksa, termasuk tak mengetahui hasilnya.
"Mana bisa, mana melaporkan, mana saya keberatan. Saya tidak tahu itu apa hasilnya tim investigasi. Baru saya tahu bahwa di Panja ini ada tim investigasi MK, tim investigasi sendiri bentukannya sendiri saya tidak mengerti," ujar Arsyad kesal.
Arsyad bernaji akan meluruskan semua tudingan Ketua MK Mahfud Md dan Djanedjri dalam pertemuan dengan Panja. Saat ditanya apakah ia merasa dikhianati, Arsyad tak menjawab. "Di dalam kurun waktu itu saya sidang ini malah beliau (Mahfud) mengajak saya konferensi hakim konstitusi se-dunia, mengajak saya tapi saya tidak pergi," tandas Arsyad.(Andhini)
http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2011/06/28/56131/Arsyad-Akui-Bertemu-Dewi-Yasin-Limpo
"Sebagai masyarakat ketimuran, famili, Dewi Yasin Limpo saya kenal sejak masih kecil. Dia di Hajibaum, saya di Cendrawasih, berdekatan. Saya bekas
Ketua Pengadilan Negeri Sungguminasa. Kakaknya sekarang yang gubernur ini dulunya sekretaris camat," kata Arsyad sebelum menghadiri rapat kerja Panitia Kerja Mafia Pemilu 2009 di gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (28/6).
Arsyad menjelaskan, pertemuan dengan Dewi adalah fakta, bukan fakta hukum. Keduanya harus dibedakan. Arysad menegaskan, ketika itu Dewi sama sekali tidak meminta penambahan suara atas sengketa hasil Pemilu 2009, antara Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di daerah pemilihan Sulsel I.
Menurut Arsyar, apa yang diceritakan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Djanedjri M Gaffar kepada DPR adalah bohong besar. "Itulah manipulasi fakta yang akan saya luruskan," tegasnya. Arsyad mengaku tidak tahu pembentukan tim investigasi MK. Arsyad tak pernah diperiksa, termasuk tak mengetahui hasilnya.
"Mana bisa, mana melaporkan, mana saya keberatan. Saya tidak tahu itu apa hasilnya tim investigasi. Baru saya tahu bahwa di Panja ini ada tim investigasi MK, tim investigasi sendiri bentukannya sendiri saya tidak mengerti," ujar Arsyad kesal.
Arsyad bernaji akan meluruskan semua tudingan Ketua MK Mahfud Md dan Djanedjri dalam pertemuan dengan Panja. Saat ditanya apakah ia merasa dikhianati, Arsyad tak menjawab. "Di dalam kurun waktu itu saya sidang ini malah beliau (Mahfud) mengajak saya konferensi hakim konstitusi se-dunia, mengajak saya tapi saya tidak pergi," tandas Arsyad.(Andhini)
http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2011/06/28/56131/Arsyad-Akui-Bertemu-Dewi-Yasin-Limpo